Kamis, 28 Mei 2015

Empat Pendekar Ciremai

4 Pendekar Ciremai Keluarga Liem Boen di Krawang mengutus Bu Beng dan Chuan Chin untuk mengantar surat tantangan berpibu kepada Louw Liong San karena telah mencelakai putra mereka, Liem Boen Bie. Louw Liong San marah, kedua utusan itu disiksa dengan dipotong hidung dan telinganya. Babah Louw Liong San merupakan tuan tanah di daerah sekitar Cirebon. Ia sangat dekat dengan pihak kumpeni karena jasanyalah Bajing Ireng berhasil ditangkap pihak Belanda. Siang itu, rumah Wong Kun Lun diobrak abrik para pendekar bayaran atas perintah pihak kumpeni. Rumah babah Wong disita karena akan dijadikan hadiah bagi Babah Louw. Terpaksa Babah Wong dan putrinya Mei Ling pergi meninggalkan rumah yang dimilikinya itu, ke tempat lain, mencari tempat tinggal baru. Tiga pendekar cilik, Kinong, Kataran dan Mang Pi’i tiba di daerah Sunyaragi, Cerbon. Mereka turun gunung menuju Kandanghaur. Baru saja mereka tuntaskan belajar ilmu silat kepada Ki Denggol dan Ki Luncup di pegunungan Ciremai. Ditengah perjalanan, mereka bertiga bertemu dengan Ki Sancang dan Ki Cupang, dua orang seniman topeng monyet yang sedang bersedih karena sang monyetnya meninggal. Akhirnya Kinong Cs bersepakat membantu kedua orang tua itu mengamen. Mang Pi’i yang badannya kurus dan bergigi tonggos kini mesti berakting dengan menjadi seorang waria. Kidang Talun, pendekar cilik si keris kembar, selalu berusaha membalaskan dendam atas kematian Wadul Angkara dan Dewi Seriti, orang tuanya yang mati dibunuh oleh Ki Denggol dan Ki Luncup. Kinong dan Kataran terkena racun yang dimasukkan Kidang Talun ke dalam nasi yang mereka makan. Mang Pi’i dengan jurus bebeknya berhasil mengalahkan Kidang Talun, sayang, ia berhasil kabur. Kesedihan Mang Pi’i berakhir ketika ia mengetahui Ki Secang dan ki Cupang berhasil mengobati kedua saudaranya yang terkena racun Kidang Talun, Kinong dan Kataran. Perjalanan Wong Kun Lun bersama putrinya, Mei Ling dalam mencari daerah tinggal baru sampai ke daerah Kandanghaur. Sementara di dalam benteng Kandanghaur, Karta dan Ranti sedang menghitung hari, menanti penuh kerinduan akan putra mereka, Kataran yang telah 3 tahun memperdalam ilmu silat di gunung Ciremai. Latihan silat diantara pendekar di dalam Kandanghaur terus berjalan dengan giat guna memperhebat perlawanan mereka melawan pihak kumpeni. Pihak Kandanghaur, hari itu bertambah kuat dengan masuknya babah Wong Kun Lun dan putrinya, Mei Ling. Atas jaminan Roijah, istri Parmin si pendekar Jaka Sembung, babah Wong dan Mei Ling kini menjadi bagian dari keluarga besar Kandanghaur. Karisidenan malam itu menjadi heboh atas kedatangan putra residen yang telah meninggal, Thomas. Sang putra tiri sang residen nyatanya masih hidup. Ia datang bersama paman Petrus, yang sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri. Petrus adalah pacar sang nyonya residen di masa lampau. Demi mendapatkan sang nyonya, tuan residen beberapa tahun yang lalu telah menyiksa dan menghancurkan wajah Petrus. Tuan residen menyangka Petrus telah mati, nyatanya masih hidup. Bahkan anak tirinya sendiri yang dibunuh, ternyata kini ia datang kembali. Malam itu, karisidenan bermandikan darah. Tuan residen akhirnya tewas di tangan Jaka Sembung. Petrus dan nyonya residen, sepasang kekasih di masa lalu, orang tua kandung dari si Thomas, mereka harus menghembuskan nafas terakhirnya di tangan tuan residen. Thomas atas permintaan orang tuanya sebelum meninggal, ia dititipkan kepada Jaka Sembung, kini ia bergabung dengan Kinong, Kataran dan Mang Pi’i. Mereka berempat kelak akan dikenal sebagai 4 Pendekar Ciremai. Selesai pula tugas rahasia Ki Secang dan Ki Cupang yang terpaksa menyamar jadi pengamen demi menjaga keselamatan 3 pendekar muda dari gunung Ciremai itu hingga ke Kandanghaur. Bagaimana dengan Kidang Talun? Akhirnya sang bocah menyadari keadaan orang tuanya, Wadul Angkara dan Dewi Seriti yang merupakan sepasang pendekar dari golongan hitam. Berkat kesadaran yang ia telah dapatkan, kini ia bersahabat dengan 4 Pendekar Ciremai. Mereka semua melanjutkan perjalanan menuju benteng pertahanan perjuangan di Kandanghaur. Sementara itu, Jaka Sembung bersama Awom melanjutkan penyelidikan ke pihak kumpeni di selatan Cerbon. Bagaimana dengan rencana pibu antara keluarga Louw melawan keluarga Liem dari Krawang? Bagaimana nasib babah Wong Kun Lun selanjutnya? … download di Gallery 80 Category: Books , Genre: Comics & Graphic Novels, Author: Djair, Jilid:9, Halaman: 528, Penerbit: UP Rosita, Tahun: 1976

Tutur Tinular

Tutur Tinular Down load eBook Tutur Tinular di Gallery 80 Tutur Tinular adalah salah satu film laga Indonesia yang ikut sukses mengikuti jejak pendahulunya, saur sepuh. Tutur Tinular berkisah tentang seorang pemuda Kurawan bernama Arya Kamandanu putra dari mpu Hanggareksa yang mempunyai kisah cinta penuh cerita dan intrik yang beberapa kali mengalami kekecewaan justru karena ulah kakak kandungnya sendiri Arya Dwi Pangga. Banyak sekali wanita yang tergoda oleh buaian puisi yang dibuat Arya Dwipangga, termasuk orang-orang yang disayangi oleh Kamandanu. Sehingga inilah merupakan awal dari permusuhan kakak beradik ini. Sandiwara Radio Awalnya Serial Tutur Tinular disiarkan tiap hari oleh stasiun radio swasta maupun RRI dengan . Sandiwara Radio ini diangkat dari Cerita S Tidjab . Tutur Tinular bersaing ketat dengan Saur Sepuh sehingga penyiarannya pun mempunyai jeda waktu dari stasiun radio yang lain. Dengan durasi kurang 30 menit Seperti halnya Saur Sepuh, Tutur Tinular juga mampu membuat pendengarnya terkesima. Karena memang inilah sandiwara radio, hiburan rakyat sampai pelosok pedesaan , Sehingga pada masa kejayaannya para pemain sandiwara radiopun menjadi idola bagi para pendengarnya. Tokoh Tutur Tinular: Arya Kamandanu : Pemuda asal Kurawan, anak kedua dari Mpu Hanggareksa. Dalam kehidupan keseharian terutama dalam memikat wanita, Arya Kamandanu selalu tidak beruntung. Ketidak beruntungan ini justru terjadi karena ulah dari sang kakak sendiri Arya Dwipangga. Murid dari Mpu Ranubhaya yang mewarisi ajian Sati Angin yang bias meringankan tubuh seringan kapas dan secepat angin. Kelak ia menjadi pewaris dari pedang Naga Puspa yang menjadi rebutan. Arya Dwipangga : Ahli membuat syair Putra sulung dari Mpu Hanggareksa di Kurawan, jago dalam memikat wanita terutama dengan menggunakan syair buatannya. Kerjanya sehari-hari hanya membuat syair, namun karena suatu kejadian dimana ia terjatuh kesumur tua akibat dihajar oleh Arya Kamandanu, ia bertemu dengan orang tua misterius yang mengajarinya ilmu kanuragan. Kelak ia akan keluar setelah matanya buta dan dikenal dengan nama pendekar syair berdarah. Mei Shin : Mei Shin adalah istri dari pendekar Lo dari China. Merupakan pasangan pelarian dari Cina yang kemudian terdampar di tanah jawa dwipa. Mei Shin kemudian bertemu dengan Arya Kamandanu yang kelak memadu kasih namun terhalan goleh Arya Dwipangga. Ketiga tokoh tersebut merupakan tokoh sentral yang menjadi nyawa dalam sandiwara Tutur Tinular. Lanjutan Tutur Tinular adalah sandiwara Radio Mahkota Mayangkara. Bedanya Tutur Tinular berkisah tentang kerajaan Singasari, tapi mahkota Mayangkara berlatar belakang kerajaan Majapahit. Karya s Tidjab adalah Sandiwara Radio Tutur Tinular , Mahkota Mayangkara , Kidung Keramat masing-masing 720 seri, dan menulis skenario Film Tutur Tinular I, Mahkota Mayangkara 52 Episode dan Mahkota Majapahit 26 Episode Layar Lebar Sukses yang dibuat oleh Saur Sepuh membuat Tutur Tinular dibawa ke Layar Lebar. Adalah PT. Kanta Indah Film yang memproduksi Film Pertama Tutur Tinular ke Layar Lebar. Buah karya dari S Tidjab ini di produksi sampai 4 Film. Tutur Tinular 1 Pedang Naga Puspa Film Produksi tahun 1989 ini menceritakan tentang awal mula masuknya Mei Shin ke Jawa Dwipa. Arya Dwipangga anak dari Mpu Hanggareksa kerjaannya hanya membuat Syair, sedangkan adiknya Arya Kamandanu lebih tertarik ke ilmu kanuragan. Ia mempunyai pacar Nala Ratih yang kemudian direbut oleh Dwipangga untuk diperistri. Sementara dari daratan Tiongkok sepasang pelarian melarikan diri dan dikejar oleh prajurit Mongol hingga terdampar ke tanah jawa. Adalah Mei Shin dan Pendekar Lou yang membawa Pedang Naga Puspa yang menjadi rebutan di dunia persilatan. Film Ini dibintangi oleh : Beny G Raharja sebagai Arya Kamandanu, Elly Ermawati sebagai Mei Shin, Baron Hermanto sebagi Arya Dwi Pangga. Pertama kali melihat film ini sungguh jauuuh banget dari khayalan tentang siapa diri Mei Shin. Dalam Khayalan Mei Shin adalah sosok perempuan, dengan pakaian tentunya sudah menyesuaikan dengan pakaian jawa. Akan tetapi di film tetap berpakaian layaknya pendekar China. Huuuuh.. jadi agak diluar dugaan juga sih…. Film ini di produksi oleh PT. Kanta Indah Film. Tutur Tinular 2 Pedang Naga Kresna Sukses dengan Tutur Tinular 1 atau agaknya gak terlalu sukses juga sih, PT. Kanta Indah film kembali memproduksi Tutur Tinular 2 dengan Judul Pedang Naga Kresna. Dalam Film Ini agaknya PT Kanta Indah Film tidak mempercayakan pada aktor dari Tutur Tinular 1. jadi memang kalau di tonton secara bersambung, secara tidak langsung kita akan membandingkan dengan pemain terdahulu yang memerankan tokoh yang sama. Dalam Film keduanya Arya Dwi Pangga diperankan oleh Hans Wanaghi sedangkan Mei Shin diperankan oleh Linda Yanoman. Film dengan durasi 84 menit ini menceritakan tentang perjuangan Mei Shin. Lanjutan dari Kisah pertamanya . Mei Shin mengubur suaminya, lalu berjalan bersama Kamandanu. Mei shin yang membawa pedang Naga puspa yang menjadi rebutan, bertemu dengan pasukan Kediri dan berperang. Kemudian terjadi bentrok dan berhasil menyelamatkan diri. Melihat kemolekan tubuh Mei Shin yang bersama Kamandanu, agaknya Dwipangga tidak tahan. Terjadilah pemerkosaan yang membuahkan seorang anak. Akan tetapi meski sakit hati, dengan jiwa ksatrianya Kamandanu mau menikahi Mei Shin yang telah dinodai oleh Dwipangga. Kemudian Mei Shin memberikan Pedang Naga Puspa kepada Kamandanu. Dasar memang culas, Dwipangga melaporkan ke Kediri bahwa pedang Naga puspa dibawa oleh Kamandanu, sehingga rumah mpu Hanggareksa di obrak abrik prajurit Kediri. Tutur Tinular 3 Pendekar Syair Berdarah Tutur Tinular 3 di produksi Elang Perkasa Film. Setelah tutur Tinular 2 memasang actor yang berbeda, di film inipun tokoh Arya Kamandanu masih mencari-cari actor yang tepat. Adalah Sandy Nayoan yang berhasil membintangi Tutur Tinular 3 sebagai Arya Kamandanu. Disandingkan dengan Devi Permatasari dan Baron Hermanto acting Sandy Nayoan di uji. Setelah sukses membintangi Sengsara Membawa Nikmat di TVRI agaknya masuk ke Film Laga bukanlah merupakan hal baru. Di film ini acting Sandy Nayoan lumayan berhasil memikat penonton. Pendekar Syair berdarah (arya Dwipangga) yang menebar maut dimana-mana. Arya Dwipangga mengacau Majapahit dengan tujuan membalas dendamnya pada Kamandanu, namun pihak kerajaan mengira pengacaunya Mpu Bajil , yang sedang memperdalam ilmu Aji Segara Geni.Untuk menyempurnakan ilmunya Mpu Tong Bajil sudah mandi 7 anak satria. Untuk melengkapi menjadi 8, ia menculik Panji Ketawang yang akan digunakan sebagai korban berikutnya. Panji ketawang adalah kemenakan dari Arya Kamandanu. Dengan dibantu istrinya Sakawuni, Kamandanu bertarung dengan Tong Bajil yang memang ditugaskan pula oleh Majapahit untuk membawa kepala Tong Bajil. Sementara Arya Dwipangga dengan tidak mempunyai hati mencari adiknya Kamandanu untuk balas dendam. Tutur Tinular 4 Tutur Tinular 4 Mendung Menggulung Di Atas Majapahit Merupakan film terakhir dari Tutur Tinular. Masih di produksi oleh PT. Elang Perkasa Film, kembali menyandingkan Beny G Raharja untuk memerankan Arya Kamandanu. Agaknya Beny G Raharja memang lebih tepat untuk memerankan Arya Kamandanu di bandingkan dengan Hans Wanaghi dan Sandy Nayoan. Film terakhir ini berhasil membuktikan siapa Ramapati, tokoh culas yang selalu memutarbalikkan Fakta. Remy Silado sebagai Ramapati berhasil membuat penonton geram melihat kelakuannya. Dari segi face memang Remy Silado sangat cocok memerankan Ramapati, karena memang memiliki muka yang culas dan licik. Arya Kamandanu di tuduh membunuh Mpu tong Bajil oleh Ramapati yang merupakan pembunuh sesungguhnya. Agaknya dendam pribadi antara Ramapati dan Kamandanu yang menyebabkan Ramapati berlaku seenaknya, sampai memfitnah meracuni raja. Keinginan utama Ramapati adalah agar Jayanegara naik tahta sehingga dengan mudah mengendalikannya. Kemudian pertemuan Kamandanu dengan Nyai Paniscara yang dulunya adalah Mei Shin akan tetapi setelah menjadi tabib, Mei Shin menggunakan nama tersebut. Dan Mei Shin pun sudah tidak mau kembali ke masa lalu, karena memang pahit sekali, sehingga kecewalah Kamandanu karena Nyai Paniscara tidak mau mengakui bahwa sebenarnya ia adalah Mei Shin. Sukses menjadi sandiwara radio dan di layar lebar, Tutur Tinular kembali diangkat ke Layar Perak. Adalah PT. Gentabuana Pitaloka yang membuat Tutur Tinular versi sinetron laga yang kemudian ditanyangkan oleh ANTV dan Indosiar. Versi Sinetron laga justru lebih menarik dibandingkan dengan versi film layar lebarnya. Agaknya teknologi sangat mempengaruhi dari trik-trik yang ditimbulkan. sumber : http://jejakandromeda.wordpress.com

Kemelut di Cakrabuana

Kemelut di Cakrabuana Posted on September 27, 2010 by Maya Kemelut di Cakrabuana, Cerita silat jawa karya Aan Merdeka Permana. Kisah ini diawali oleh LELAKI tua berjenggot putih itu mangangkat kaki kanannya dengan lutut sejajar pusar, sedangkan sepasang tangannya siap siaga di depan dada dengan telapak terbuka lebar. Lelaki itu menahan napas sejenak, mulutnya berkomat-kamit. Secara tiba-tiba kaki kanan yang terangkat itu melompat ke depan. Bersamaan dengan itu sepasang tangannya mendorong dengan pengerahan tenaga kuat. Tenaga dorongan mengarah ke depan, ke arah sebongkah batu yang jaraknya ada sekitar lima depa (1 depa kurang lebih 1,698 meter). Seiring dengan teriakan yang keluar dari mulut lelaki tua itu angin pukulan pun terdengar berciutan. Kemudian tak lama antaranya terdengar suara ledakan memecah jantung. Bongkahan itu hancur hampir menjadi kerikil bertaburan. “Mengagumkan sekali Paman Jayaratu!” teriak seorang pemuda yang berdiri terpana pada jarak sejauh lima depa. “Suatu saat, engkau yang harus melakukan gerakan ini,” kata Paman Jayaratu menatap pemuda itu……., selengkapnya download di Gallery 80 beserta cerita lainnya Senja Jatuh di Pajajaran, Tersesat di Rawah Anom, Sang Mudinglaya